Rebalancing Portofolio: Cara mudah investasi untuk Sleeper Investor

Rebalancing Portofolio: Cara mudah investasi untuk Sleeper Investor

Oleh: Andry Wicaksono

Menjelang akhir tahun biasanya banyak para investor yang lupa dengan konsep rebalancing ini. Padahal kalau kita paham dan menjalankan rebalancing dalam setiap investasi kita bisa memaksimalkan profit dan meminimalkan resiko investasi.

Rebalancing merupakan strategi investasi untuk menyesuaikan kembali alokasi portofolio investasi sesuai dengan tujuan dan komposisi awal yang telah ditetapkan. Kita sebagai investor sebelum berinvestasi harus tau benar tujuan investasi kita. Apakah investasi kita jangka pendek, menengah atau panjang. Selain itu setiap investor wajib memahami karakter investasinya masing –masing, apakah termasuk investor yang menghindari risiko atau siap dengan resiko tertentu. 

Taukah kamu, ketika kita berinvestasi seringkali kinerja dari setiap portofolio efek yg kita miliki itu berbeda-beda. Ada portofolio yang memberikan return luar biasa besar tapi ada juga portofolio yang memberikan return yang rendah atau malah mengalami kerugian. Perbedaan kinerja porfofolio tersebut perlu diantisipasi dengan melakukan rebalancing portofolio.

Rebalancing cenderung cocok untuk investor jangka panjang yang tidak selalu memantau kondisi pasar setiap saat. Namun demikian, rebalancing tidak biasa dilakukan oleh investor yang day trading atau selalu melihat kondisi pasar dan berusaha memperoleh cuan dari setiap kondisi yang terjadi di pasar dalam jangka pendek. Rebalancing bisa dilakukan secara periodik sesuai dengan komitmen investor sendiri. Bisa setiap 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun. Selain itu, rebalancing biasanya dilakukan dengan mengkombinasikan portofolio yang memiliki return dan resiko tinggi dengan portofolio yang memiliki return dan risiko rendah.

Yuk kita mulai coba mensimulasikan bagaimana cara melakukan rebalancing porfolio investasi!

Contohnya kayak gini. Mas AWE adalah investor yang ga suka liat market terus terusan tapi tetep ingin investasi buat jangka panjang. Namun meskipun investasinya jangka panjang tapi profil resikonya konservatif alias orang yang tergolong baperan.

Pada awal tahun 2019 mas AWE berniat investasi di 2 instrumen yaitu saham syariah yang memiliki market cap cukup besar dan memiliki fundamental yang kuat serta harganya masih cukup murah (disebut Saham A) dan salah satu reksa dana pasar uang yang dikelola salah satu dari 5 Manajer Investasi (MI) terbesar (disebut Reksa Dana Pasar Uang B). Adapun detail investasi mas AWE sebagai berikut:

  • Tujuan investasi utk tambahan tabungan hari tua
  • Jumlah investasi awal Rp.10 jt
  • Waktu beli 3 Januari 2019
  • Portofolio yang dibeli ada 2 yaitu saham A (dari JII) seharga Rp.4.000 per lembar (Rp.400.000 per lot) dan reksa dana pasar uang B yang dikelola dari salah satu MI besar dengan nilai NAB per unit Rp.2000
  • Rasio keseimbangan yang diambil 60:40 (60% resiko rendah dan 40% resiko tinggi)
  • Komitmen akan rebalancing setiap 1 tahun sekali

 

Bulan Januari 2019

Kemudian, Mas AWE yang sudah membuka rekening di salah satu sekuritas yang juga menjadi agen penjual reksadana mulai membeli saham A dan reksa dana pasar uang B pada tanggal 3 Januari 2019 dengan komposisi rasio 60: 40. Selanjutnya, mas AWE  membeli efek sebagai berikut:

  • Reksadana pasar uang B (resiko rendah) yaitu sebesar Rp.6.000.000 (60% dari 10.000.000). dimana setelah di konversi dalam bentuk Unit Penyertaan (UP) dengan NAB per unit Rp.2.000, maka mas AWE mendapatkan 3000 UP (6.000.000 / 2.000 unit)
  • Saham A (resiko tinggi) yaitu sebesar Rp.4.000.000 (40% dari 10.000.000). Dimana mengingat harga saham A adalah 4000/lembar (400.000/lot) maka mas AWE akan mendapatkan 10 lot saham A (4.000.000 / 400.000 = 10)


Bulan Februari – Awal Desember 2019

Nah setelah membeli saham A dan reksa dana syariah B, mas AWE menjalani aktivitas bekerja seperti biasa, terus belajar investasi, dan jangan lupa liburan sama keluarga. Boleh sekali-kali lihat market untuk sekedar info aja. Kalau harga saham A naik, tahan dulu, jangan pede untuk jual. Kalo harga saham A turun, maka tahan hati jangan sampe baper ikutan cut lost. Biar ga stres, mas AWE cenderung jarang ngelihat kondisi bursa supaya ngga ikut deg-degan karena naik turunnya harga saham.


Desember 2019

Nah setelah Desember 2019 tiba maka ini juga waktunya mas AWE untuk me-review portofolio yang dimilikinya dengan 2 alternatif yaitu:

  1. Kemungkinan 1: Market Bullish

Ternyata kondisi tahun 2019 walaupun ditengah tengah ada gonjang ganjing perang dagang tapi hampir ditutup dengan manis bagi pasar saham yang menjadi industrinya saham A. Kondisi portofolio mas AWE sebagai berikut:

  • Saham A nilai nya jadi Rp 5600 per lembar ( profit 40% dari nilai awal 4000). Jadi aset AWE di saham A bernilai 5600 x 100 lembar x 10 lot = 5.600.000
  • Reksadana pasar uang B nilainya jadi Rp 2.160 per unit (naik 8% dari nilai awal 2000) sehingga aset di reksadana B jadi 2.160 x 3000 unit = 6.480.000

So nilai total investasi mas AWE jadi 5.600.000 + 6.480.000 = Rp.12.080.000 atau naik 20.8 %

Nah karena mas AWE konsisten dengan konsep rebalancing 60:40 maka komposisi investasi yang akan dilakukan mas AWE yaitu:

  • Saham A = 40% x 12.080.000 = 4.832.000 (kelebihan 768.000 atau 5.600.000 – 4.832.000)
  • Reksadana B = 60%x12.080.000 = 7.248.000 (kekurangan 768.000 atau 6.480.000 – 7.248.000)

Karena perhitungan komposisi tidak pas dengan realisasinya maka mas AWE akan menjual sebagian saham A yang dimilikinya dari sebelumnya Rp 5.600.000 menjadi Rp 4.832.000 atau jual sebesar 1 lot saham A seharga 5.600 per lembar dengan harga Rp 560.000. Memang akan ada selisih antara realisasi penjualan dengan jumlah yang harusnya di jual, yaitu sebesar Rp208.000 (selisih sekitar 768.000 – 560.000 = 208.000. Selanjutnya, uang hasil penjualan saham A akan dibelikan reksadana B sebanyak 259 (Rp 560.000 / Rp 2.160) unit.

Setelah dilakukan rebalancing maka komposisi portofolio mas AWE adalah:

  • Saham A= 9 lot x Rp5600 = Rp5.040.000
  • Reksa Dana Pasar Uang B= (3000 unit + 259 unit) x 2.160 = Rp.7.039.440

Total = Rp 5.040.000 + Rp 7.039.440= Rp 12.079.440 serta beberapa uang tunai.

Dengan melakukan rebalancing ini, maka mas AWE secara tidak langsung telah melakukan penjualan saham dalam kondisi untung (sell on top) dan merealisasikan keuntungan tersebut ke dalam instrumen yang resikonya rendah.

  1. Kemungkinan 2: Market Bearish

Nah bila ternyata yang kita harapkan di awal tahun ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan alias market turun, dengan permisalan sebagai berikut:

  • Saham A nilainya jadi Rp 3200/lembar (turun 20% dari 4.000) karena saham market cap besar cenderung defensif sehingga turunnya tidak parah. Sehingga aset di saham A sebesar Rp 3.200 x 10 lot = Rp 3.200.000
  • Reksadana B nilai NAB/unit Rp2.160 (naik 8%) karena reksadana pasar uang B realtif berisiko rendah. Sehingga aset di reksa dana B jadi sebesar Rp 2.160 x 3000 unit = Rp 6.480.000

So nilai total investasi mas AWE jadi Rp 3.200.000 + Rp 6.480.000 = Rp 9.680.000 atau turun 3.2 %

Nah karena mas AWE konsisten dengan konsep rebalancing 60:40 maka komposisi investasi yang akan dilakukan mas AWE yaitu:

  • Saham A = 40% x 9.680.000 = 3.872.000 (kurang 672.000 atau 3.200.000 – 3.872.000 )
  • Reksadana B = 60% x 9.680.000 = 5.808.000 (kelebihan 672.000 atau 6.480.000 – 5.808.000)

Oleh karena itu maka mas AWE akan menjual sebagian reksa dana pasar uangnya sebesar 311 unit (Rp 672.000 / Rp 2.160 = 311 unit). Uang hasil penjualan reksa dana tersebut dibelikan saham A sebesar 2 lot dengan harga Rp 640.000 (2 lot x Rp 3.200 x 100 lembar).

Setelah dilakukan rebalancing maka komposisi portofolio mas AWE adalah:

  • Saham A = 12 lot x Rp 3.200 = Rp 3.840.000
  • Reksa Dana Pasar Uang B = (3000 unit – 311 unit) x Rp 2.160 = Rp 5.808.240

Total = Rp 3.840.000 + Rp 5.808.240 = Rp 9.648.240 serta beberapa uang tunai.

Dengan melakukan rebalancing ini secara tidak langsung mas AWE sudah membeli saham A di harga murah (Rp 3.200) sehingga apabila harga saham A ini naik maka aset mas AWE di saham A akan semakin bertambah (dari 10 lot jadi 12 lot – font merah).

Demikian sekilas money management sederhana khususnya buat kamu yang pengen jadi sleeper investor dan menjadikan kegiatan investasi sebagai hal yang santai namun tetap cuan. Selamat mencoba, dan jangan lupa jadikan investasimu berkah dengan investasi di pasar modal syariah syariah ya!


Share


Komentar (0)